Vibe Coding, Dua Mata Pisau
Di jaman yang sudah serba terhubung dengan internet, pastinya kita akan sulit hidup tanpanya. Mulai dari belajar, main game, kerja, bahkan sekedar order makan sudah melalui internet. Ditambah dengan berkembangnya AI (Artificial Intelligence) yang sangat pesat menjadikan hidup semakin mudah. Layanan AI yang tersedia pun banyak mulai dari ChatGPT, Gemini, Antigravity, Copilot, Claude Code, dan masih banyak lagi. Kerja pun makin cepat dengan bantuan AI. Alat tempur utama dalam riset dan menyelesaikan tugas yang kompleks kini jadi singkat dalam hitungan menit bahkan detik. Semakin jago “prompting” maka semakin bagus juga hasil yang diberikan oleh AI.
Salah satu pekerjaan yang paling sering mengandalkan AI adalah koding. Bagi orang awam, melihat orang ngoding itu ibarat orang sedang nge-hack sistem yang kompleks. Padahal, realitanya tidak demikian. Kerjaan ngoding ini makin berkembang menjadi “vibe coding” istilah baru di dunia koding dimana koding kita dibantu oleh AI untuk mempersingkat waktu ataupun menyelesaikan tugas yang berulang.
Karena AI yang dipakai untuk membantu koding dirasa sangat powerful, fungsi AI ini bisa “dipecut” lebih jauh sampai diminta untuk membuat fitur spesifik sehingga bisa memangkas waktu development lebih singkat. Bahkan selama perintah yang kita berikan ke AI sudah sesuai, fitur yang tadi diminta bisa terintegrasi dengan koding yang sebelumnya kita buat secara manual.
Dari mudahnya melakukan pengembangan aplikasi seperti ini, muncul masalah besar baru yaitu banyaknya bug dan error, karena AI hanya bekerja sesuai perintah yang kita masukkan sebelumnya. Banyak kasus dimana fitur sudah dibuat tapi error saat naik ke sistem karena banyaknya bug yang terjadi. Contoh sederhana, saat kita membuat fitur “add to cart” jangan sampai kita bisa melakukan input quantity “0” dan bisa dilanjutkan ke halaman checkout. Perlu ada pengecekan dimana saat stok barang tersebut habis maka produk wajib dihapus atau minimal tidak bisa dibeli atau dimasukkan ke cart.
Pentingnya quality control atas pekerjaan kita sendiri menjadi hal mutlak dilakukan. Tidak lupa juga bahwa dasar ilmu programming juga wajib dipahami sebagai pondasi kita untuk melangkah lebih baik. Saat kita “nyemplung” ke suatu bidang, kita wajib belajar dasar ilmu dari bidang tersebut agar produk atau jasa yang kita buat tidak akan gagal ataupun rusak di tengah perjalanan. Jangan pernah menjadikan AI sebagai “pengganti”, tapi jadikan AI sebagai “alat bantu” yang memudahkan. Seperti peringatan saat menggunakan AI yaitu “AI can make mistakes” jadi sebagai pengguna wajib double-check pekerjaan ataupun tugas yang sudah dibuat.
Kalau kamu mau kembangin sistem buat bisnis kamu tapi bingung mau mulai dari mana, atau kamu mau digitalisasi proses bisnis kamu yang sudah berjalan, langsung konsultasi aja ke Dreite. Kami siap untuk memberikan solusi terbaik.